TRIP 1 - Memulai dengan Lima Roti dan Dua Ikan, Persembahanku yang Terbaik


Lima roti & dua ikan (ada di kitab Matius, Markus, Lukas dan Yohanes) adalah ayat emas yang menjadi menyertai permulaan dari pelayanan saya dalam retret pemulihan yang ada di Gereja saya. Bagaimana ceritanya? Mari kita mulai kisah ‘Trip’ pertama kita.

Saya suka membaca artikel psikologi dan juga manga ber-genre detektif sejak saya masih SD. Dan setelah saya lulus sekolah dan bagian pelayanan konsumen. Saya semakin mengerti dan berkesempatan untuk mengaplikasikan apa yang saya ‘pelajari dahulu’. Walau akhirnya, saya jadi terbiasa memakai ‘topeng’.

Namun inilah alasan mengapa saat saya bersedia menjadi fasilitator pada pelayanan di sebuah retret pemulihan yang ada di Gereja saya. Namun demikian, seperti yang mungkin sudah teman - teman tangkap. Saya dulunya adalah pribadi yang cukup egois dan dingin. Oleh karena itu, disaat setelah saya ditetapkan untuk ikut melayani dalam retret tersebut. Saya sadar, saya tidak boleh memperlakukan para peserta saya seperti ‘barang’.

Kesalahan saya, saya termasuk pribadi yang tertutup. Karena saya tidak mencari solusinya bersama ketua komsel ataupun otoritas dalam pelayanan tersebut, maka saya cukup tertekan untuk menjalankan pelayanan tersebut. Puji Tuhan, Tuhan Yesus baik. Di masa itu, saya terinspirasi dari khotbah - khotbah yang saya dengar untuk ‘mencoba’ meminta ‘hati’ dan belas kasihan untuk jiwa - jiwa. Kejadian ini mengizinkan saya untuk bertekun dalam doa dan melangkah dengan iman dari firman Tuhan. Ya, karena dari firman berikut yang sebelumnya saya dengar:


Matius 14:17-21 (TB)
17 Jawab mereka: "Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan." 
18 Yesus berkata: "Bawalah ke mari kepada-Ku."
19 Lalu disuruh-Nya orang banyak itu duduk di rumput. Dan setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak. 
20 Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, dua belas bakul penuh.
21 Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak. 

Saya menangkap apabila kita sudah memberi yang terbaik, sisanya Tuhan yang akan bantu. Tugas saya berdoa (pribadi), datang tepat waktu pada setiap persekutuan doa dan membayar full ongkos pribadi yang diperlukan

Retret pemulihan di Gereja saya dilaksanakan selama tiga hari. Dimulai dengan pra-camp pada hari Kamis malam. Sesi pra-camp pada hari Kamis berisikan briefing singkat serta cuplikan dari sesi - sesi yang akan dilaksanakan pada hari Sabtu dan Minggu nanti. Sedangkan pada hari Sabtu dan Minggu, retret akan diadakan di Puncak.

Dimulai pada sesi Pra-Camp, satu hal yang tidak saya sadari adalah tubuh saya ringan dan reflek bergerak sesuai dengan puji - pujian yang dinyanyikan, loncat ya loncat (beberapa bulan kemudian salah satu peserta saya bilang, ‘itu salah satu hal yang mempermudah dia untuk buka hati.’ Menarik bukan? Tuhan Yesus ajaib). Padahal dikarenakan dahulu pada saat itu saya biasa mengikuti ibadah raya yang diisi oleh kebanyakan orang - orang dewasa yang tidak loncat - loncat seperti anak - anak muda di ibadah ‘youth’.

Pelayanan saya pada hari Sabtupun berjalan dengan ‘lancar’. Dan dikarenakan setiap fasilitator diwajibkan memimpin saat teduh dan doa pagi bersama para peserta pada hari Minggu. Karena handphone saya saat itu sedang rusak dan saya belum tahu banyak mengenai firman Tuhan dan saat teduh. Saya hanya bisa berdoa disaat saya sedang mandi dengan guyuran air dingin karena saya sudah tidak kebagian air hangat (kelak salah satu peserta saya menyampaikan keluhannya mengenai waktu mandi saya yang terlalu lama, haha).

Dan di sini hal menarik terjadi teman - teman. Saat itu, saya ‘terlintas’ firman yang berbunyi‘mintalah maka akan diberikan’:

Tetapi pada kala itu saya lupa darimana ayat itu. Oleh karena itu, segera setelah saya selesai mandi dan berganti pakaian saya berfikir untuk menanyakannya ke salah seorang rekan pengerja yang menurut saya seperti ‘alkitab berjalan’. Begitu saya keluar kamar setelah berpakaian dan menuju ke aula berharap bertemu dengan dia. Orang yang saya cari juga baru saja keluar dari kamarnya, dengan ‘iman seperti anak kecil’ saya yakin ayat itu dari Tuhan untuk saya bagikan kepada para peserta saya, yaitu:

Matius 7:7 (TB)  "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.
Namun ternyata ayat itu juga merupakan jawaban dari doa saya. Pada sesi pertama (luka batin) pada hari Minggu. Setelah selesai mendoakan salah satu peserta saya (altar call masih berlangsung, masih cukup banyak peserta yang masih didoakan oleh para pengerja). Namun karena reaksi salah satu peserta saya yang menurut saya 'kurang maksimal’, walau dari pengakuannya dia memang tidak memiliki banyak pengalaman buruk pada sesi tersebut. Setelah itu saya ikut berdoa di sampingnya, dan saat itu salah satu rekan pengerja datang dan mendoakan saya. Kira - kira doanya seperti ini, 'Tuhan pakai anak ini lebih lagi'. Disaat itu saya menangis, 'terbuka' bahwa selama dua hari itu saya terasa begitu ringan, ‘berhikmat’ berbicara dengan para peserta, berempati dan bahkan punya iman. Itu semua adalah jawaban dari doa - doa saya untuk retret pemulihan ini. Puji Tuhan, hal tersebut menjadi salah satu pengalaman indah saya bersama Tuhan. Dan bisa kita simpulkan, kejadian ini juga merupakan buah / berkat dari:

Roma 10:17 (TB)  Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus. 

Segala sesuatu yang mengizinkan kita untuk semakin dekat dan mengenal siapa Tuhan kita. Pastilah itu hal yang baik. Sebab:

Roma 8:28 (TB)  Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

Walau, jujur saja untuk bagian ‘bagi mereka yang mengasihi Dia,’ itu harus senantiasa kita ‘cross-checked’. Dan perbanyaklah mendengar firman Tuhan, caranya? Keluarkan suara kita pada saat teduh kita. Sekali lagi saya ingatkan:

Roma 10:17 (TB)  Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus. 

Ya, pendengaran. Dan apabila memungkinkan, hendaklah kita membatasi pendengaran kita dari ucapan - ucapan yang sifatnya ‘negatif’. Dan mungkin beberapa dari kalian lebih sesuai apabila judulnya berkaitan dengan ‘mintalah maka akan diberi’ dan sebagainya. Tetapi bagi saya pribadi, kalau saya memikirikan ‘kekurangan’ dari diri saya. Kemungkinan besar, saya tidak akan turut ambil bagian dari pelayanan ini dan gagal menikmati ‘berkat’ dari ‘awal’ perjalanan iman ini. Dan itulah alasannya mengapa saya memilih ‘lima roti dan dua ikan’ sebagai judul dari ‘Trip’ kali ini. Sekian untuk ‘Trip’ kali ini, ditunggu ya lanjutannya.

Dan bonusnya kali ini adalah lagu ini
https://www.youtube.com/watch?v=lkHwlijTwio

KUBAWA KEPADA-MU, OH TUHAN
PERSEMBAHANKU INI
‘KU INGIN ENGKAU MENERIMA
KORBAN SYUKURKU MELALUI PUJIAN

TAKKAN PERNAH ‘KU BAWA SELAIN YANG TERBAIK
YANG HARUM DAN SEJATI DI HADAPAN TAHTA-MU
YESUSKU TERIMALAH KORBAN SYUKURKU INI
YANG MENGALIR DI HATIKU S’BAGAI PENYEMBAHANKU


Songwriter: Franky Sihombing

~ Thank You for Reading & Visiting! ~
~ GOD BLESS YOU! JESUS CHRIST LOVES YOU! ~
~ HAPPY NEW YEAR ~

Comments