TRIP 3 - Jika Kita Tidak Setia, Dia Tetap Setia (2 Timotius 2:13)

2 Timotius 2:13 (TB)  jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya." 

Menyambung kisah dari TRIP 2 - Komunitas Rohani, pada rentan waktu diantara retret pemulihan pada bulan Agustus 2018 s/d Febuari 2019, saya sedang mengalami pergumulan dalam bidang pekerjaan. Saya melihat sebuah ‘stagnancy’ dalam pekerjaan saya. Tentunya, saya berdoa dan meminta sebuah pekerjaan baru dari Tuhan semenjak bulan Juni / Juli. Tuhan menjawabnya, namun pekerjaan yang diberikan Tuhan itu memiliki lingkungan kerja yang ‘terlihat’ sama dengan lingkungan kerja saya sebelumnya (salah satu keluhan saya adalah ‘lingkungan pekerjaan’ yang kurang kondusift). Dan pada masa – masa itu juga dalam ‘persekutuan doa’ & ibadah di Gereja. Pembahasannya berulang kali membahas:

Matius 7:26-27 (TB)
26 Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir.
27 Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya."

Firman tersebut berbicara mengenai iman, bukan? Dan selain firman itu, pembahasan yang kerap kali dibagikan adalah mengenai ‘proses berulang’ yang akan terjadi apabila kita belum memenangkan suatu proses. Saya merasa, kedua pembahasan tersebut Tuhan tujukan langsung kepada saya.

Karena doa saya tidak dijawab oleh Tuhan, saya ‘ngambek’ kepada Tuhan. Walau saya masih mengikuti ibadah dan persekutuan doa, tetapi antusiasmenya mulai hilang dan saya mundur dari salah satu ‘program / kelas pelayanan’ di Gereja. Salah satu Kakak rohani yang cukup dekat dengan saya menegur perubahan perilaku saya. Tentu dalam keadaan seperti itu saya menolak dan menjauh darinya. Pada masa itu saya sangat ‘menyesali’ kenapa Gereja saya hanya memiliki satu lorong menuju ruang ibadah yang mengakibatkan saya harus sering bertemu dengan dia dan teman – temannya.

Pada masa – masa itu, saya sungguh jenuh dengan khotbah / bahasan dalam Gereja saya. Dikarenakan Gembala Gereja saya memiliki karakter yang cukup keras dan militant, tentu khotbah / bahasan yang disampaikan mengenai bayar harga, integritas, jiwa – jiwa dan hidup jadi berkat. Sementara integritas adalah hal yang sedang saya gumuli. Dengan lingkungan kerja yang memiliki percakapan ‘cukup toxic’, saya sungguh ingin sekali ‘mencibir’ rekan – rekan kerja saya. Namun dikarenakan saya pernah melayani sebagai fasilitator dalam retret pemulihan pada bulan Mei 2018 lalu, saya mencoba untuk tidak menjadi batu sandungan bagi peserta – peserta saya yang rata – rata lebih muda dari saya dan juga merupakan jemaat baru.

Rencananya, saya hendak menyatakan pengunduran diri saya setelah melayani di retret pemulihan pada bulan Agustus 2018 nanti. Karena saya merasa pelayanan yang memerlukan integritas tinggi seperti itu diluar kapasitas saya. Namun saya membatalkan niat tersebut karena salah satu peserta yang saya layani, setelah ‘kembali’ dari kampung halamannya untuk kuliah di Jakarta. Ia banyak bercerita kepada saya mengenai upayanya menginjili teman – temannya. Saya sangat terkesan melihat pekerjaan Tuhan merubahkan ‘karakter’ anak itu. Oleh karena itu, timbul sebuah kerinduan untuk melihat pekerjaan Tuhan lebih lagi. Dan memilih untuk ‘cukup’ mengurangi aktivitas di Gereja.

Pada retret di bulan Agustus, saya tidak bertugas sebagai fasilitator. Tetapi sebagai anggota tim perlengkapan dan juga mengurus ‘stand pendaftaran’ di Gereja. Dikarenakan saya tidak memiliki peserta sendiri, saya rindu dan ingin melihat perubahan seperti yang dialami oleh peserta saya. Oleh karena itu, pada saat pracamp, saya berdoa dan bertanya kepada Tuhan. Siapa yang menjadi ‘porsi’ saya kali ini. Tuhan menunjukan dua orang, karena dikala itu saya tidak sedang memiliki keintiman yang baik dengan Tuhan, doa yang terlalu cepat Tuhan jawab saya meragukannya sebagai ‘perasaan saja’.

Retret saat itu merupakan retret dengan salah satu atmosfer yang paling baik yang pernah saya ikuti, manifestasi sangat mudah terjadi saat altar call. Dan karena saat itu saya tidak sedang memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan. Tentu saya takut ‘terpukul’ oleh manifest mereka dan akhirnya saya sempat menjaga jarak dari dua orang yang mengeluarkan impresi unik tersebut. Saya takut membayangkan manifestasi mereka. Walau pada sesi – sesi terakhir saya memberanikan diri melayani mereka berdua.

Bahkan setelah retret selesai salah satu diantara mereka cukup terbuka dengan saya. Sehingga saya kerap kali mengajak dia untuk mengikuti persekutuan doa di Gereja. Oleh karena itu, saya membatalkan niat saya untuk ‘mengurangi’ aktivitas saya di Gereja.

Dan dalam salah satu persekutuan doa yang ada, saya ‘tertampar sangat keras’. Pembahasan malam itu mengenai ‘hyper grace’, dahulu ke-Kristen-an yang saya lihat dari orang – orang disekitar saya menunjukan ‘gaya hidup’ seperti ‘itu’. Oleh karena itu, dulu saya sangat ‘anti’ terhadap orang Kristen. Menurut saya mereka munafik, menyorakan penebusan dosa tetapi bolak balik hidup dalam dosa (pornografi, cinta uang, dsb). Dan itu menjadi penghalang bagi saya untuk mengenal ‘kebenaran’ firman Tuhan.

Malam itu, saya tersadar. Keinginan saya yang hanya tertuju pada berkat dan tidak mau bayar harga sudah mengarah kesitu. Malam itu mengantar saya untuk memasuki masa ‘pertobatan’. Saya memohon maaf kepada Tuhan dan memberanikan diri untuk ‘diproses’ oleh Tuhan di tempat kerja. Suka – sukanya Tuhan, saya sendiri disadarkan. Saya mengikuti Tuhan Yesus karena Dia terlebih dahulu mengasihi saya (akan saya ceritakan dilain artikel), kenapa sekarang saya harus ragu kepada-Nya?

Dan Tuhan sungguh menjawabnya dengan proses. Di tempat kerja, saya ditugaskan untuk menerima telepon masuk. Hal itu sangat tidak menyenangkan, karena telepon yang masuk sangat beragam. Ada yang suaranya kecil, ada yang berteriak – teriak. Sangat tidak menyenangkan.

Puji Tuhan hal itu tidak berlangsung lama, bos di tempat saya bekerja memindah tugaskan saya ke divisi lain. Tentu saya tidak berani menolaknya dan sayapun tidak perlu curiga terhadap atasan saya karena kesempatan ini bukan berasal dari dia.

Di sana saya harus berhadapan langsung dengan pelanggan, saya cukup kesulitan karena sistem pada toko kami belum terlalu ‘matang’. Puji Tuhan dengan semangat yang baru dan suasana yang lebih baik, saya memaksakan diri saya untuk bisa menjalaninya. Dan sekali lagi, Puji Tuhan saya bisa menjalankannya. Dan penghasilan yang saya lebih besar dibanding posisi saya sebelumnya.

Salah satu pekerjaan yang ingin saya coba dalam kejenuhan saya sebelumnya adalah ‘wedding organizer’. Dan kesempatan inipun Tuhan berikan, pada bulan Oktober salah satu teman saya menikah dan meminta saya untuk menjadi ‘usher’ pada pernikahannya nanti. Diapun membelikan saya kemeja putih untuk dikenakan pada pernikahannya nanti. Sebelumnya saya memang ‘sempat’ terpikir untuk membeli kemeja putih baru. Namun saya batalkan karena kemeja putih jarang saya gunakan dan mudah kotor

Pada retret tersebut beberapa sahabat saya tiba – tiba mau mengikutinya sebagai peserta. Setelah sebelumnya mereka selalu enggan saat saya ajak. Beberapa fasilitator yang saya rekomendasikanpun disetujui oleh otoritas retret tersebut dan dari respon para panitia, saya melihat mereka menjalankan pelayanan mereka dengan baik. Namun sayangnya saya tidak bisa melihat kegiatan retret tersebut karena saya sudah memutuskan untuk absen dari retret pada bulan Oktober. Karena pada hari yang sama saat retret itu berlangsung, saya memutuskan untuk lebih memilih mengikuti tes TOEFL.

Suasana kerja yang lebih, bayaran yang lebih tinggi, kesempatan mencoba bekerja di ‘wedding organizer’, kemeja putih yang baru, tes TOEFL (dengan harga murah), sahabat – sahabat saya bisa mengikuti retret tersebut, semua Tuhan kabulkan.

Dahsyat bukan? Betapa baiknya Tuhan Yesus itu? Bukan disaat saya layak, tetapi disaat saya tidak layak. Ia menunjukan kasih setia-Nya.

Dan segala sesuatu yang Ia izinkan itu baik adanya, dengan menjaga integritas saya, saya tentu akan semakin jauh dari dosa. Dan dosa bukanlah sesuatu yang perlu kita ‘mainkan’, karena:

Roma 6:23 (TB)  Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

Saya sempat bersungut – sungut ketika harus mengurus ‘stand pendaftaran’ tersebut karena saya harus menghubungi rekan – rekan sesame pengerja Gereja untuk bergantian menjaga stand tersebut. Tetapi dari sana, saya tahu. Saya yang sekarang sudah bukan lagi orang yang sama yang dulu tidak bisa meminta tolong kepada orang lain karena takut ditolak. Dan dikarenakan mayoritas pengerja di Gereja saya adalah anak muda, maka saya mendapat banyak teman dari lingkungan yang ‘benar’. Beberapa dari merekapun membagikan api dan value Gereja. Sungguh kesempatan yang memberkati.

Sekali lagi:

2 Timotius 2:13 (TB)  jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya." 

Belajar melayani itu harus, karena disitu kita belajar untuk taat dan taat itu penting. Kenapa?

Matius 7:21-23 (TB)
21 Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.
22 Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?
23 Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!"

Agar kita belajar terbiasa menjadi pelaku penggenap kehendak Allah. Karena bukanlah kehendak kita yang harus jadi, tetapi kehendak-Nya yang selalu baik harus jadi melalui hidup setiap daripada kita. Seperti teladan yang sudah Tuhan Yesus berikan:

Matius 26:39 (TB)  Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki."

Efesus 2:10 (TB)  Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.

Ya, untuk mendatangkan kebaikan dalam hidup kita. Dan melayani jiwa – jiwa adalah juga sangat memberkati saya:
1.     Saya dipulihkan juga dari cara pandang saya sebagai pribadi yang dibanding – bandingkan. Kenapa? Beberapa jiwa yang pernah saya tangani adalah jiwa – jiwa yang sangat berapi – api di dalam Tuhan setelah retret pemulihan tersebut. Saya yang masih ‘hijau’ dan masih banyak melakukan kesalahan sungguh bukanlah pilihan yang baik.
2.     Saya yang tertutup dan terbiasa memenda di dalam hati, jadi membiasakan diri untuk terbuka. Keterbukaan itu akan sangat membantu kita menghadapi intimidasi dan membiasakan diri untuk membereskan hati kita akan membawa damai dalam hidup kita.

Dan untuk kali ini lagu yang benar - benar menyentuh saya sejak saat itu sampai dengan sekarang:

Verse 1:
Bapa Kau setia
Bapa Kau mulia
Tenanglah jiwaku
Aman bersamaMu

Verse 2:
Lebih dari harta
Kaulah segalaNya
Tenanglah jiwaku
Dalam hadiratMu

Chorus:
Kau tunjukan kasih setiaMu
Kau menyediakan yang kuperlu
Kau Setia Kau Mulia
Dulu s’karang dan s’lamaNya

Kau tunjukan kasih setiaMu
Kau menyediakan yang kuperlu
Kau setia Kau Mulia
Bapa Kau setia

Verse 2:
Lebih dari harta
Kaulah segalaNya
Tenanglah jiwaku
Dalam hadiratMu

Chorus: 
Kau tunjukan kasih setiaMu
Kau menyediakan yang kuperlu
Kau Setia Kau Mulia
Dulu s’karang dan s’lamaNya

Kau tunjukan kasih setiaMu
Kau menyediakan yang kuperlu
Kau setia Kau Mulia
Bapa Kau setia

Chorus: 
Kau tunjukan kasih setiaMu
Kau menyediakan yang kuperlu
Kau Setia Kau Mulia
Dulu s’karang dan s’lamaNya

Kau tunjukan kasih setiaMu
Kau menyediakan yang kuperlu
Kau setia Kau Mulia
Bapa Kau setia

Kau setia Kau Mulia 
Kau setia Kau Mulia
Kau setia Kau Mulia
Bapa Kau setia



~ Thank You For Reading & Visiting ~
~ FIGHTING!!! ~
~ God Bless You! ~

Comments